Home cerpen Terlambat, Sahabat

Terlambat, Sahabat

236
0
SHARE
Terlambat, Sahabat

Keterangan Gambar : Ilustrasi perpisahan. foto sumber: internet

Foto: Ivana. Dok pribadi

SINAR matahari menelusuk masuk dari celah jendela ke dalam sebuah kamar bernunasa putih dan biru. Terlihat wajah seorang gadis yang tidur terlelap,tanpa merasa terganggu oleh sinar matahari yang menyapu tiap sudut kamarnya.

“Ckleck”

Pintu dibuka oleh seorang wanita muda sekitar 20 tahun. Ia memasuki kamar tersebut dan menghela nafas melihat seorang gadis yang masih tidur lelap tanpa terganggu oleh bunyi pintu yang dibuka. Ia melangkah ke kasur tersebut dan membangunkan gadis tersebut.

“Dek,bangun udah pagi. Ini sudah pukul lima tiga puluh,” ucap wanita itu dengan lembut sambil membelai rambut panjang gadis itu.

Gadis itu mengeliat sebelum membuka mata hitamnya yang jernih. Ia segera bangun menuju kamar mandi, tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada wanita yang membangunkannya. Wanita itu hanya bisa menghela nafas dengan perubahan sifat adiknya.

Sintia Kandiya Putri adalah namaku, gadis yang baru bangun dari mimpinya. Aku biasanya dipanggil Sintia atau Sinka. Umurku 17 tahun dan sekarang duduk di kelas 12 semester 1. Aku memiliki mata sipit yang jika aku tersenyum akan berbentuk bulan sabit, tinggi dan berat badan ideal, rambut yang panjang, ramah,ceria, suka melihat sunset pantai, suka main gitar, friendly dan pintar.

Tapi itu dulu. Aku sekarang dingin, cuek, tidak suka main gitar apalagi melihat sunset pantai. Aku juga penyendiri dan mungkin tidak pernah lagi tersenyum. Itu semua karena 5 tahun yang lalu. Kejadian yang tak akan pernah aku lupakan, yang mengubah segalanya.

“Sin, bekalnya jangan lupa dimakan,” kata kakakku, menyadarkan lamunanku.

Aku hanya mengangguk.

Setelah sarapan, aku melajukan mobil menuju sekolah. Sesampainya di sekolah, aku melangkahkan kakiku cepat ke kelas 12IPA1. Bukan nemui sahabat apalagi pacar. Tapi memang itu adalah kelasku. Aku duduk sendirian di ujung karena keinginanku. Aku tidak mempunyai yang namanya sahabat.

“Selamat pagi anak-anak,” ucap seorang guru memasuki kelas, diikuti seorang cowok di belakangnya.

“Pagi bu!!”

Biasanya kami memanggil bu Tina. Cowok itu menurutku murid baru karena aku ngak pernah melihatnya.

“Eehh apa pikiranku ini, ngapain aku peduli. Mending baca novel,” gumamku pelan. Lalu mengambil novel untuk dibaca.

“Sekarang kita kedatangan murid baru. Silahkan perkenalkan namamu,”

“Hai semua, namaku Vino Raja Prasetya. Kalian bisa memanggilku Vino. Mohon bantuannya,”

“Baik kamu duduk disana, disamping Shania hanya itu kursi yang kosong,” kata bu Tina sambil menunjuk kursi disampingku.

“Iya bu,” jawab Vino menuju kursi di sebelahku.

“Baik,anak-anak. Hari ini ada rapat guru jadi les 1 sampai 3 free les. Jadi ibu izin pergi,” izin bu Tina lalu keluar kelas.

Semua murid bersorak gembira, dan datang menuju sebangkuku untuk kenalan. Tapi aku ngak peduli dan mengambil earphone sambil baca novel.

“Hap,”

Novelku ditarik oleh seseorang. Aku kesal dan melepas earphone ditelingaku lalu melirik disampingku.

“Hei..” ucapku belum selesai yang langsung di potongnya.

“hai namaku Vino Raja Presetya,” sambil menjulurkan tangannya untuk perkenalan.

Aku melirik tangannya dingin lalu kematanya.

“Aku sudah tahu," ucapku acuh tak acuh sambil menarik novelku yang ditangannya.

“Dan jangan ngambil milik orang kalau ngak kenal,” sambungku lalu pergi ke luar kelas.

Tiga bulan Ia selalu mengganggu, sok dekat, meminta jadi sahabatku, dan mengoceh tak jelas. Membuat kepalaku stres dan tidak pernah lagi dikelas ada waktuku yang tenang. Ia memiliki sifat jahil. Dan empat bulan setelah aku menerima dia jadi sahabatku.

Pernah suatu hari ia lari saat melihat ku di jalan. Sebelum dia sampai ke aku, ia mengalami kejadian yang dimana pertama kali aku tertawa setelah sekian lamanya karena tingkahnya yang lucu.

Flashback

"Ahhh...mama tolong....ada orang gila,” teriak Vino sambil lari ke arahku dan menarikku juga lari. Saat itu aku kesal seenak perutnya menarikku.

Lalu kami berhenti didekat pohon. Untungnya orang gila itu tidak mengejar kami, namun Vino tergelincir dan wajahnya langsung ke tanah.

“Heheehe,” kekeku pelah.

“Ahh.. sakit,” keluhnya. Lalu bangun namun tiba-tiba ia teriak yang membuatku terkejut dan menoleh ke arahnya.

“Waaa...waaa... apa ini?” teriaknya kencang menyentuh wajahnya.

“Hahhaa...haaa..” aku semakin tertawa pecah, ngak tahan lagi.

Vino menoleh kearahku dan tercengang. aku bingung dan tawaku berhenti.

“Apa!?” kesalku

“Umm.... ngak ada, hanya pertama kali lihat seorang Sinka ketawa. Apa lagi punya smiling eyes,” Jawab Vino gugup menggaruk kepalanya.

Aku tertegun.

Flashback End

Kring,,,,kring,,,, dering handphoneku memyadarkan lamunanku.

“Halo, apa Vin?" Tanyaku bingung.

“Ummm... kitakan udah temanan nih, jadi...”

“Jadi..?” potongku.

“Gini mau nggak ajari aku main gitar? Aku dengar kamu jago main gitar,” jawabnya cepat.

Aku terdiam.

“Haloo Sin, kok diam? Apa pertanyaanku salah? Aku tahunya dari temanmu,” lanjut Vino.

Aku masih tetap diam.

“Trus kita latihannya sambil lihat sunset.pasti bagus itu,” lanjutnya lagi.

Aku semakin kesal.

“Jangan sok tahu deh, aku benci main gitar dan aku juga benci melihat pemandangan sunset. Kamukan udah tau apa yang ngak aku sukai,” semprotku marah.

“Ak,,,aku,, nggak bermak...” sebelum ia selesai bicara, aku memotongnya.

“Aku pikir sahabat itu pengertian, ternyata ngak. Aku ngak mau cakapan samamu lagi,” selesaiku bicara lalu melempar hpku ke kasur.

“Diakan udah tau aku ngak suka diungkit tentang itu, tapi ahhh.. udalah,” gumamku frustasi.

Seminggu berlalu, Vino ngak masuk kelas. Jadi aku menuju rumahnya.

Sesampainya di rumah Vino, aku mendengar suara Vino dan mamanya bicara di dalam rumahnya.

"Ma, aku mau belajar main gitar di bawah sunset pantai. Pasti itu menyenangkan!” seperti suara Vino.

“Ia, tapi nanti tunggu kam..”

Sebelum mendengar mamanya selesai bicara, aku meninggalkan rumah Vino pelan-pelan.

Semenjak Vino tidak pernah masuk kelas tiga minggu terakhir ini, aku merasa kesepian. Karena aku tidak memiliki sahabat. Tiga hari berikutnya aku tidak sekolah. Tiga hari berlalu , kabar Vino juga belum ada.

"Kring..kring," bunyi bel sekolah pulang.

“Apa aku kunjungi rumahnya? Tiga hari ini aku ngak sekolah dan ngak tau ada berita tentangnya,” pikirku cemas.

“Ya, aku harus pergi,” gumamku beranjak dari kursi.

"Tok..tok," aku mengetuk pintu rumah Vino.

“Kok sepi yah,” bingungku.

"Ckleck," pintu dibuka memunculkan seorang wanita paru baya, wajahnya terlihat keriput dan sedih.

“Ya, adek siapa?” tanya wanita itu ramah.

“Umm.. saya temannya Vino tan. Vino nya ada?” tanyaku penasaran.

Wanita itu tiba-tiba menangis, aku terkejut.

“Hiks..hikss..”

“Bu ada apa?” tanyaku cemas membawa ibu itu duduk di kursi teras.

“U..u. apa namamu sinka?” tanya ibu itu sambil menahan tangisnya.

“Iya bu saya Sinka. Ada apa bu?” jawabku semakin penasaran dan cemas

Ibu itu diri dan permisi masuk ke dalam.

“tunggu yah,” kata ibu itu.

Aku menunggu dan melirik jam kira-kira 1 menit ibu itu datang membawa amplop dan gitar. Aku heran dan ingin bertanya tapi ibu itu langsung bersuara.

“Nak, ini ada surat dan gitar dari Vino,” ucap ibu itu yang mulai sedih lagi.

“Eehh.. surat apa bu? gitar? Vinonya kemana?” tanyaku bercampur bingung dan cemas.

Ibu itu terdiam sebentar, lalu bersuara lirih yang masih bisa di dengar.

“Vin...Vino... anak saya sudah meninggal 2 hari yang lalu. Karena kanker otak nak. Hiks..hiks..” lirih ibu itu.

Aku terkejut menutup mulut dan menangis.

“Waa..wa.. hiks..hiks..ngak mungkin, ini hanya mimpi,” tangisku lirih tidak percaya.

Ibu itu hanya dapat menepuk pundakku dan menenangkanku.

“Bu, saya izin,” ucapku lirih permisi.

Lalu aku pergi berlari ke mobilku. Aku mengendarai mobil sampai berhenti di depan pantai yang sebentar lagi sunset. Aku ingat keinginan Vino ingin bermain gitar dibawah sunset pantai. Aku turun dari mobil menuju jot kereta mengambil gitar yang dititipkan Vino kepada mamanya untukku.

Aku mengambil gitar tersebut dan membawanya ke tepi pantai. Mungkin ini tujuan Tuhan supaya aku keluar dari keterpurukanku. Aku membuka surat dan membacanya.

Dear my Lovely Friend,

Hai.. sahabat terbaikku Sinka. Mungkin kamu membaca suratku saat aku tidak ada lagi di dunia ini. Aku harap kamu memaafkan aku.

“Iya kamu udah ngak disini lagi, aku sudah memaafkanmu bodoh. Sekarang kamu senangkan!” bentakku menjawab suratnya.

Aku melanjutkan membacanya.

Haha..haaha... kamu pasti memaafkanku, aku tahu kamu orang baik. Tapi aku ngak mungkin kembali lagi. Aku juga minta maaf ngak jujur soal penyakitku. Aku takut kamu khawatir samaku.

“Siapa bilang, aku ngak mungkin khawatir sama orang sepertimu hahaah...haaa," lirihku tertawa dan kembali membaca surat itu.

Hmm..hmm..gak mungkin kamu khawatir samaku, kamukan orangnya cuek. Haha..hahaha.. bercanda kok. Kamu tenang aja, aku disini sudah tenang kok. Aku ngak merasakan sakit lagi. Ehh,.. kok malah curhat, nggak papakan Sin aku curhat dikit. Kamu tahu nggak waktu aku nelpon kamu untuk main gitar di bawah sunset, itu salah satu impianku dan mungkin kita terakhir kali ketemu dan aku akan jujur soal penyakitku. Tapi ya sudahlah, itu juga salahku seharusnya aku ngomongnya langsung. Aku harap kamu jaga kesehatan, jangan dingin lagi dan cari sahabat yang dapat kamu percayai.

“Bagaimana aku mau mencari orang sepertimu, ini semua salahku tidak mendengar alasanmu," ucapku merasa bersalah lanjutku membaca.

Semoga kamu juga tetap kembangkan bakat main gitarmu. Kembalilah menjadi Sinka yang ceria dan ramah. Kasihan kakakmu yang selalu pasrah dengan perubahan sifatmu. Aku bersyukur punya sahabat seperti kamu.

Walau aku sudah beda alam denganmu, aku harap kamu bisa mewujudkan impianku yang belum tercapai. Jadilah Sintia Kandiya Putri yang menyukai sunset dan raih cita-citamu.

Sekali lagi maaf, dari sahabat terbaikmu

Yang terakhir kali aku berharap masih menjadi sahabatmu.

Love, Vino Raja Prasetya.

“Fiuhh” helaan nafas keluar begitu spontan dari mulutku.

“Baiklah,mungkin kamu ngak mungkin hidup kembali. Tapi aku harap kamu tetap disampingku dan membantuku My Friend Vino,” gumamku dengan sedih

“Aku akan melakukan impianmu, mencoba kembali menjadi Sinka yang ceria dan ramah," lanjutku lagi.

“Aku terima kasih karena kamu ada saat aku perlu pundak untuk bersandar, dan menenangkan ku saat masa lalu yang kulupakan muncul lagi,” ucapku mengingat kejadian itu.

Flashback

Aku mengendarai sepeda bersama Vino. Saat itu kami melewati jalan yang tidak ingin aku lewati. Masa laluku muncul lagi. Kepalaku jadi pusing dan jatuh dari sepeda.

Bugh.. "Auu...” keluhku sakit.

Aku memegang kepalaku karena masa lalu itu muncul lagi.

“Tidaaak... mama, papa jangan tinggalin Sinka. Ini semua karna Sinka hiks...hiks..” teriakku kesakitan dan takut.

“Eh.. Sin kenapa, tenang ajah semua aman kok,” kata Vino menenangkanku.

Aku tidak mendengarnya.

“Ma, pa, maafin Sinka hiks...hiks.. kalau Sinka nggak paksa melihat sunset pantai dan maksa main gitar di mobil, mungkin kecelakaan tidak akan terjadi,” racauku lagi.

Lalu aku merasa ada yang memelukku dan membisikkan kata-kata yang tenang. Ternyata itu Vino. Aku menoleh dan mengucapkan Terima kasih.

“Makasih Vin sudah tenangi aku, aku harap kamu tidak memberitahu orang lain tentang apa yang aku bilang,” ucapku.

Vino mengangguk tersenyum dan membantuku berdiri.

“Dan mungkin kamu sudah mendengarnya itulah alasanku menjadi seperti ini,” lanjutku mengayuh sepeda.

“Iya, tenang ajah sahabat itu melengkapi, ada saat kamu lagi sedih atau bahagia dan tidak menusuk dari belakang,” jawab Vino mengayuh sepedanya. Akupun tersenyum.

Flashback off

Matahari mulai tenggelam, menampilkan pemandangan pantai yang makin indah. Aku tersenyum menyukai suasana ini setelah sekian lama.

“Aku mulai tersenyum karena kamu. Aku tertawa lagi karena kamu. Aku kembali suka main gitar juga karena kamu. Aku kembali menyukai sunset karena kamu. Mungkin kamu malaikat yang diutus untuk menyadarkanku dari keterpurukanku,” pikirku sekali lagi mengagumi pemandangan sunset pantai setelah waktu lama ini.

Aku mengambil gitar dan menyanyikan lagu: sahabat sejati akan menjadi kenangan terindah. Di bawah matahari terbenam ini, aku menyanyikannya untukmu dan persahabatan kita. Semoga kamu tersenyum di alam sana.

Lagu berakhir dan persahabatan kita akan jadi kenangan terindah.

“Terlambat, sahabat” teriakku tiba-tiba ke arah pantai, meluapkan kekesalanku.

“Terlambat aku minta maaf, terlambat aku memaafkanmu, terlambat aku mencapai impianmu bersama mu semuanya terlambat. Kamu tetap sahabatku. Hiks...hiks..” terangku lirih berdiri meninggalkan sunset pantai menuju mobilku.

“Maaf buat semuanya,” akhirku menoleh ke belakang, lalu melanjutkan langkahku menuju mobil.

Penulis    : Ivana

Redaktur : Damai