Home berita Pesan pak Darmayanto

Pesan pak Darmayanto

85
0
SHARE
Pesan pak Darmayanto

Keterangan Gambar : Darmayanti. Sumber foto: dok pribadi

Kiat Jitu Pendidik Menghadapi Perubahan Karakter Siswa Di Abad Milenial

Pepatah klasik mengatakan barang siapa yang menabur angin maka dialah yang akan menuai badai dan barang siapa yang menabur benih kebaikan maka dia pula yang akan menuai kebaikan. Dalam hal ini, seseorang yang berprofesi pendidik maka wajib hukumnya untuk mempelajari lebih dalam mengenai sikap,perilaku dan kebiasaan siswa dalam melaksanakan tugas belajarnya sebagai bahan evaluasi keberhasilan dalam perannya membelajarkan dan mendidik siswa sebagai jembatan untuk mengantarkannya dalam meraih kesuksesan-kesuksesan di masa depannya.

Di sisi lain, karakter belajar siswa yang meliputi sikap dan perilaku bukanlah hal yang bersifat permanen,lebih dari itu keduanya senantiasa mengalami dinamisasi sesuai dengan tren perkembangan zaman. Para siswamempunya cara pandang,wawasan, serta pengalaman yang diinginkan saat menjalani proses pembelajaran.Seorang pendidik patut melakukan evaluasi diri terhadap keberhasilannya dalam membelajarkan siswa dengan mencermati apakah karakter siswa saat ini sangat mendukung efektivitas kegiatan pembelajaran atau sebaliknya makin membuat guru yang bersangkutan merasa semakin kewalahan. Untuk hal terakhir, seorang pendidik seharusnya tidak mengalami hal seperti itu, dengan mengamati, mencermati, dan mempelajari pola atau tren yang terjadi sehari hari di kalangan para siswa merupakan langkah awal yang tepat dalam menemukan solusinya.

Berikut kiat praktis menemukan solusi menghadapi karakter siswa di Indonesia saat ini:

Pertama, Karakter Siswa saat ini cenderung malas mengingat /menghafal materi pelajaran karena “efek googling”dengan androidnya yang dirasa lebih efektif dalam menemukan “kunci “jawaban dalam sebuah pertanyaan daripada menumpuk teori di memorinya. Mereka adalah siswa yang berpikir praktis dan memilih jalan mudah dalam mengingat sebuah konsep atau teori. Mereka adalah siswa yang mudah bosan dengan model pembelajaran konvensional,mendengar ceramah gurunya serta menghafal model “kuno”.

Dari waktu ke waktu penggunaan media berbasis IT, apakah yang berformat android atau iOS ibarat sudah seperti cemilan bagi siswa bahkan makin lekat bagi hampir semua kehidupan mereka,oleh karena itu penguasaan IT sebagai media dan sumber pembelajaran bagi siswa pun harus dapat dikuasai oleh para pendidik, sudah bukan jamannya lagi seorang pendidik menganggap bahwa penggunaan teknologi informasi dalam pembelajaran ini sesuatu  yang tabu. Nah, agar pendidik dapat mengedukasipara siswanya dalam menggunakan TIK untuk kepentingan pembelajaran maka secara perlahan-lahan kita bisa tunjukkan kalau gedget atau gawai yang mereka miliki bail android atau  iOS itu bisa digunakan untuk belajar, baik searching materi atau memasang aplikasi materi pembelajaran, atau sharing tugas atau Pekerjaan Rumah (PR) kepada mereka. Setelah ditunjukkan pada mereka lalu saatnya untuk mengajaknya, hal ini pasti akan memberikan pengalaman menarik para siswa untuk melakukannya. Bila hal ini terjadi maka seorang pendidik ini sudah memberikan pengalaman belajar sambil “bermain” pada siswanya. Keterkaitan dunia IT dan pembelajaran mungkin akan membuka mata para pendidik sebagai ide untuk melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) dalam mengetahui “Student Insight “dari kegiatan pembelajaran peserta didik.

Kedua,Karakter siswa Indonesia kebanyakan tidak memiliki jadwal yang tetap dalam kegiatan belajarnya dirumah/tempat tinggal. Pola yang populer di kalangan para siswa yaitu sks atau sistem kebut semalaman,belajar hanya dilakukan kalau ada Pekerjaan Rumah (PR),belajar menjelang Ujian serta budaya belajar yang tidak lagi dikembangkan di rumah keluarga di Indonesia,kebanyakan fenomena ini terjadi di sebagian besar terjadi di perkotaan dan dari waktu ke waktu makin menguat. Waktu di rumah lebih banyak dikalahkan dengan dengan menonton televisi bermain game,berinternet atau yang lainnya dari pada untuk belajar.

Ke depan para pendidik makin sulit membangkitkan semangat belajar siswa secara mandiri karena lemahnya peran serta orang tua /wali murid serta budaya lingkungan masyarakat setempat.Guna mewujudkan kerja sama yang harmonis membangun habit belajar siswa secara mandiri dirumah.Peran pendidik dalam membangun jalinan komunikasi harmonis harus dengan orang tua / wali siswa lebih ditingkatkan baik secara formal atau non formal,Parenting Education,komitmen bersama orang tua /wali murid dalam memberikan edukasi masyarakat tentang pentingnya menumbuhkan semangat giat belajar harus terus ditingkatkan. Secara real harus digalkkan jam wajib belajar di dalam lingkungan masyarakat itu.

Ketiga,Karakter siswa Indonesia tidak terlalu berpikir proses namun lebih berorientasi hasil. Perilaku ini tercermin dari fenomena banyaknya siswa yang berusaha mencari bocoran,perilaku yang penting nilainya bagus,mencontek, malas belajar, perilaku siswa yang tidak teguh dalam menjalani proses pembelajaran,budaya copy paste dsb.

Dalam jangka panjang perilaku ini pada dasarnya tidak akan membangun kompetensi dan daya saing siswa di masa depan.Mencermati fenomena ini seorang pendidik sangat perlu untuk melakukan penyesuaian terhadap model, metode, strategi, dan teknik pembelajaran agar dapat membuat siswa lebih betah dan memiliki kepuasan dalam menjalani pengalaman belajarnya. Upaya Ini berkaitan dengan update dan upgrade kompetensi pedagogis seorang pendidik. Kegiatan seperti penyegaran, seminar atau sejenisnya sebaiknya dilakukan institusi dengan mengundang nara sumber di bidang itu misalnya dari LPMP, sehingga muaranya pembelajaran di kelas kelak bisa lebih segar daan nyaman.

Keempat, Dari sudut pandang psikologi dikatakan bahwa karakter siswa Indonesia cenderung lebih suka membangun komunitasnya sendiri. Siswa siswi lebih suka dan berbahagia jika dapat memiliki komunitas yang berbasis minat dan kepentingannya,baik secara nyata maupun virtual. Tumbuhnya jejaring sosial via internet yang didominasi anak anak belia yang masih sekolah menunjukkan bahwa komunitas adalah hal yang paling penting dan berarti bagi dirinya. Walaupun tidak semua komunitas siswa itu berdampak positif bagi perkembangan sosialnya.

Sejalan dengan perilaku siswa yang suka berkelompok ini sudah saatnya seorang pendidik patut menurunkan ego sektoral sebagai peran guru yang “superordinate’ menjadi berperan sebagai sahabat siswa baik secara real maupun virtual. Dengan demikian guru dapat diterima dan mengetahui perkembangan pergaulan serta memberi arah kebaikan kepada peserta didik.

Kelima, Karakter siswa Indonesia yang cenderungminimpeduli lingkungan dan makin individual. Dengan makin menjamurnya perumahan-perumahan mewah,lingkungan sekolah dan perilaku masyarakat yang makin individual berdampak pada banyak siswa yang makin tidak memiliki kesempatan untuk memperdulikan lingkungan sekitarnya. Bahkan para siswa cenderung cuek atau bahkan cenderung hanyut pada lingkungan yang makin tidak kondusif. Jika ini dibiarkan maka mutu out put kita akan menjadi lulusan lulusan yang makin mendatangkan kerusakan pada alam. Fenomena banyaknya kejadian banjir bandang di beberapa lokasi di tanah air bisa dibilang salah satu indikasinya.

Dalam struktur kurikulum memang Pendidikan Lingkungan Hidup atau PLH tidak ada lagi, tetapi ketiadaanya bukan berarti para pendidik tidak lagi memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan pengetahuan tentang lingkungan hidup, seorang pendidik harus memiliki tanggung jawab moral untuk mengajak para siswanya untuk menjaga dan mencintai lingkungan. Guna meningkatkan peran dan kepedulian siswa maka pendidik patut menyusun strategi pembelajaran kepada siswa yang berbasis kepedulian pada lingkungan,seperti meningkatkan gerakan kebersihan sekolah,taman hijau di sekolah pengelolaan sampah sekolah atau kegiatan luar ruang yang membuat siswa makin memiliki kesadaran dan kepedulian pada lingkungan.

Bila perubahan dan percepatan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dapat mempengaruhi siswa,maka tugas dan peran pendidik adalah membangun karakter siswa guna menciptakan life skill nya dimasa depan. Tidak bisa ditawar tawar lagi bahwa tugas para pendidik adalah meningkatkan diri guna memprediksi kecepatan perubahan perilaku siswa guna membentuk karakter para siswayang berkebangsaan Indonesia.

Redaktur         : Astri