Home cerpen Pedang Kehidupan

Pedang Kehidupan

43
0
SHARE
Pedang Kehidupan

Keterangan Gambar : Ilustrasi jalan kehidupan. sumber foto: bioenergicentermakassar.blogspot.com

DI sebuah desa di kaki gunung, dua orang sahabat sedang giat mempelajari ilmu bela diri silat. Tio dan Ito nama dua sahabat itu. Mereka berguru kepada seorang tua yang selain menguasai ilmu silat, juga sangat bijak. Dua tahun mereka mempelajari jurus demi jurus dalam menyerang dan bertahan.

Tio dan Ito menjalani latihan yang diberikan guru mereka dengan rajin dan semangat. Suatu pagi ketika semua orang terlelap dalam tidur, sang guru memanggil kedua muridnya.

“Tio dan Ito ikut aku ke ruang latihan sekarang juga,” ucap sang Guru.

Tio dan Ito kemudian bangun dan mencuci wajah dengan air agar kantuk mereka hilang. Kemudian, mereka segera mengikuti sang guru menuju ruang latihan. Sang Guru telah duduk bersila di sudut ruangan. Di dekat nya terdapat dua benda yang masih terbungkus kain. Tio dan Ito segera duduk di depan sang Guru, siap mendengarkan apa yang akan disampaikan nya.

“Tio dan Ito muridku, jurus yang aku ajarkan kemarin kepada kalian adalah jurus yang terakhir. Dan kalian adalah murid yang cerdas sehingga bisa menguasainya dalam waktu yang singkat,” kata sang guru.

Setelah menghela napas dan diam sejenak, ia melanjutkan perkataan nya.

”Aku memiliki sebuah pedang yang kunamai Pedang Kehidupan. Pedang ini sangat kuat sekaligus sangat lembut. Untuk mendapatkan, kalian harus turun gunung dua hari. Apa yang kalian temui di jalan adalah yang menentukan siapa yang akan mendapatkan Pedang Kehidupan ini. Bawalah serta pedang pendek ini sembari melepas kain yang membungkus pedang tersebut, untuk menjaga diri dari marabahaya,” ucap sang guru.

Tio dan Ito berpandangan. Mereka terlihat bingung dengan apa yang dikatakan oleh sang guru.

”Guru, apakah kami harus bertarung dengan siapa saja yang kami temui di jalan?” tanya Tio.

Sang guru hanya tersenyum dan menepuk pundak Tio dan Ito.

“Kalian akan menempuh dua jalan yang berbeda. Tio lewat sebelah timur dan Ito sebelah barat. Dalam dua hari, kembalilah kesini,”

Bertepatan dengan terbitnya matahari, Tio dan Ito mencium tangan sang Guru dan memulai perjalanan. Mereka berdua begitu semangat hingga tebing curam dan sungai deras tidak menjadi halangan.

Tio yang menuruni gunung sebelah timur menggunakan pedang pendek nya untuk menebas semak-semak yang ia lewati. Ia ingin secepatnya sampai ke kaki gunung. Sedangkan Ito tidak menggunakan pedang pendeknya sama sekali. Ia justru menyembunyikannya di balik baju.

Belum separuh hari, Tio telah sampai di kaki gunung. Sambil melepas lelah, Tio mengasah pedang pendeknya. Tiba tiba, ia mendengar suara tangis seorang gadis. Setengah terburu buru, Tio mencari sumber suara itu dan melihat seorang gadis tertunduk lemas di pinggir jalan. Ia menangis tersedu sedu.

“Kenapa kamu menangis, siapa yang berbuat jahat kepadamu?” tanya Tio kepada gadis itu.

“Dia tahu aku sulit berjalan karena lumpuh, lalu dia mengambil uangku,” jawab gadis itu terisak.

Tanpa berpikir panjang, Tio mengejar seorang pria yang membawa sekeranjang sayuran.

“Berhenti!! Kembalikan uang gadis yang ada disana!” teiak Tio.

“Ia membeli sayuranku, jadi uang itu adalah milikku,” jawab pria itu tenang.

Mendengarnya, Tio berang. Ia menganggap pria itu tidak mempunyai belas kasihan kepada si gadis lumpuh. Tanpa basa basi, Tio menebas keranjang sayuran

itu hingga isinya berhamburan di jalan. Tio meninggalkan pria itu begitu saja dengan kesal.

Baginya, menghancurkan sayuran pria itu merupakan balasan atas perbuatan sang pria yang telah mengambil uang si gadis lumpuh itu.

Tio pun melanjutkan perjalanannya. Ia merasa sangat haus dan memutuskan untuk mencari sumur. Ketika itu, ia melihat lima orang sedang berkerumun di pinggir sumur. Tio pun mendekat.

”Apa yang terjadi? Kenapa dengan sumur ini?” tanyanya kepada sekerumun orang itu.

“Air sumur tiba-tiba menjadi lebih dalam dari sebelumnya. Kami biasanya mengambil air cukup dengan gayung, saat ini tidak bisa lagi,” jawab seorang pria.

Tio pun teringat tali yang ia bawa dalam tasnya. Ia lalu mengikat tali ujung talu tersebut pada pohon di tepi sumur dan mengikat ujung talinya yang satu lagi ke badannya sendiri.

Dengan berani dia masuk ke dalam sumur membawa gayung dan berkata kepada orang yang berkerumun tadi.

”Aku akan mengambil kan air untuk kalian. Katakan sudah bila kalian sudah merasa cukup,” kata Tio.

Tio pun naik turun sumur untuk mengambil air. Dengan ilmu silat yang diajarkan gurunya, badan Tio menjadi terlatih dan tidak mudah capek. Selesai mengambil air, Tio langsung keluar dari sumur. Ternyata haru sudah senja dan ia memutuskan untuk beristirahat.

Besok pagi, ia harus kembali ke gunung untuk menemui guru nya. Lalu, bagaimana dengan Ito?

Ito yang sama sekali tidak mengeluarkan pedang pendeknya selama menuruni gunung, menempuh waktu yang lebih panjang untuk sampai ke bawah. Ia mengikuti jalan setapak yang sudah ada dari tempat latihannya di atas hingga sampai di kaki gunung.

Sesampainya di bawah, ia bertemu dengan gadis lumpuh yang sedang menangis.

“Kenapa kamu menangis di pinggir jalan begini?” tanya

Ito kepada gadis itu.

“Dia tahu aku sulit berjalan karena lumpuh, lalu dia mengambil uangku”, jawab gadis itu sambil terisak.

“Mari kugendong dan kita akan mengejar bersama-sama”, gadis itu mencoba mengelak.

“Oh, tidak apa-apa. Itu lebih baik daripada aku yang mengejarnya sendirian, karena hanya kamu yang tahu berapa uangmu yang diambil oleh orang itu. Aku pun tidak tahu apakah pernyataan mu itu cocok dengan pernyataan pria itu,” kata Ito.

“Kenapa mesti serumit itu? Kamu tinggal mengejarnya dan mengambil kembali uangku,” kata gadis tersebut.

“Untuk menyatakan seseorang bersalah atau tidak, kita tidak boleh gegabah. Kita harus bertanya kepada kedua belah pihak atas segala keberatan dan kebenaran peristiwa. Kalau tidak begitu, pasti akan ada yang dirugikan,” Ito memberi penjelasan.

Gadis itu lalu berdiri dan pergi dari pinggir jalan. Ia kesal karena tipuannya tidak berhasil. Ito yang sudah menduga bahwa gadis itu berbohong, dengan tenangnya melanjutkan perjalanan.

Di tengah perjalanan, tibalah Ito pada sumur yang dikerumuni oleh orang- orang.

”Kenapa kalian tidak mengambil air dan meneruskan pekerjaan, tapi justru berdiri di pinggir sumur seperti ini? Apa yang terjadi?”

”Air sumur ini tiba-tiba menjadi lebih dalam dari sebelumnya. Kami yang biasanya mengambil air cukup dengan gayung, saat ini tidak bisa lagi,” jawab seorang pria.

Ito pun teringat pada tali yang Ia bawa.

“Bawalah kemari gayung itu, aku akan membuat kalian bisa mengambil air sumur dengan mudah,”

Seorang pria membawa gayung itu ke tempat Ito. Kemudian, Ito mematahkan tangkai gayung. Kedua sisi gayung dilubangi dan dimasukkan tali yang menyambungkan kedua lubang itu. Kemudian,di tengah tali dikaitkan dengan tali panjang. Ito mencoba memasukkan gayung bertali itu ke dalam sumur dan menarik nya talinya ke atas.

”Nah, sekarang gayung ini sudah bisa digunakan lagi untuk mengambil air,” ucap Ito setelah ia berhasil mengangkat gayung berisi air dalam sumur.

Dengan penuh suka cita, orang-orang itu mengucapkan terima kasih kepada Ito. Ito kemudian teringat bahwa ia harus segera pulang menemui gurunya. Ia pun berpamitan dan segera kembali naik ke tempat latihannya di atas gunung.

Di atas gunung, sang Guru telah menunggu kedua muridnya dengan tenang. Pertama Tio muncul, lalu Ito. Setiba disana, mereka berdua segera mandi dan bersiap menghadap sang Guru.

Begitu tiba di dalam ruang latihan untuk menghadap samg Guru, Tio dan Ito sangat terkejut karena di sana telah duduk pula gadis yang pura-pura lumpuh, pria yang dituduh mengambil uang, dan orang-orang yang berkerumun di sumur.

“Tio dan Ito muridku, kuucapkan selamat datang dari ujian terakhir kalian untuk mendapatkan Pedang Kehidupan. Semua orang disini telah menceritakan kepadaku pengalaman mereka bertemu dengan kalian berdua. Kalian berdua adalah murid yang sangat kuat dan pintar,” ucap sang Guru.

Tio dan Ito berpandangan. Senyum berkembang di bibir mereka.

”Dan telah kuputuskan pula penerima Pedang Kehidupan dariku, pedang yang sangat kuat sekaligus sangat lembut. Dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan, yang terlihat mata maupun tidak,” ujar sang Guru.

Kali ini Tio dan Ito terlihat bingung. Mana ada pedang yang sedemikian hebatnya. Seperti jin saja, pikir mereka berdua.

”Ito kaulah pemilik pedang kehidupan,” ujar sang Guru seraya

menyerahkan secarik kertas bertuliskan kalimat: ‘KEMANA PUN KAMU PERGI, PERGILAH DENGAN SEPENUH HATI’.

”Ya, itulah pedang kehidupan dariku. Sejati nya Pedang Kehidupan berada di diri

kalian masing-masing. Ia berada di sini, di dalam dada,” tambah sang Guru.

Hikmah: Pedang Kehidupan yang dimaksud adalah hati. Hati yang begitu kuat tapi juga bisa begitu lembut. Hati adalah senjata yang akan membantu kita mengatasi berbagai masalah di kehidupan ini tanpa harus melukai orang lain.

Penulis      : Fahrin Ajie Mahmud
Redaktur   : Ivana