Home cerpen Pahlawan tak Sempurna

Pahlawan tak Sempurna

126
0
SHARE
Pahlawan tak Sempurna

Keterangan Gambar : Ilustrasi orang caca. sumber foto: Rumahku.com

“HEY, itu bukan sosok pahlawan!”

“Dasar aneh.”

“Tidak ada yang ingin kehilangan kakinya di masa depan nanti, Vera. Berfikir logislah.”

Aku terpaku. Bingung ingin menjawab apa. Mereka tak mengerti.

Tanganku mulai berkeringat. Semua sorot mata menilai membuat tubuhku kaku.

“Anak – anak harap kondusif. Kita tak tahu apa maksud dari gambar Vera. Ayo nak, katakan sesuatu. Semua orang menunggu penjelasanmu”

Seakan mengetahui kondisiku. Bunda Aminda mencoba menghentikan cemoohan teman temanku.

Ku tarik nafasku sedalam mungkin. Walau hampir tercekat. Aku tetap mencoba bersuara.

“Ini adalah sosok pahlawan bagiku. Namanya Bu Cut. Tubuh rapuh dengan hanya satu kaki yang menopangnya.”

Aku berhenti sejenak. Suasana mendadak hening saat aku mulai berbicara.

“Di masa depan, aku ingin menjadi seperti dirinya. Bukan, bukan ingin kehilangan satu kaki. Tapi ingin terus membantu orang di sekitarku, menyebarkan segala kebaikan, dengan semua kekurangan yang  aku punya.”

Kelasku masih tetap hening. Menunggu lanjutan ucapanku dengan mata penasaran.

“Apa yang dia lakukan padamu sampai kau menyebutnya pahlawan? Hanya karna dia membantu semua orang?” Celetuk seorang anak.

"Iya, cuman karna sering membantumu maka dia kau sebut pahlawan?" Sambung anak lainnya.

"5 tahun yang lalu. Mainsetku seperti kalian. Sampai di saat aku jatuh naik sepeda di komplek rumahku. Bu Cut dengan kaki dan tongkatnya berlari menolongku. Setelah itu ku perhatikan. Bu Cut selalu memperdulikan lingkungan sekitarnya. Dengan kekurangannya, dia selalu bersemangat menjalani harinya. Bahkan menularkan semangatnya ke orang di sekitarnya."

"Pahlawan yang ku maksud disini bukan seseorang yang rela mati di peperangan. Bukan seseorang bertenaga baja dan berbadan sangat kuat yang bisa membantu semua orang. Tetapi pahlawan yang ku maksud adalah sesorang yang dengan tindakan tindakan kecilnya, bisa merubah pola fikirku. Bisa menumbuhkann semangat dan motivasi baru. Ini pahlawan versi ku."

Aku tercekat. Kenapa semua orang di kelasku terdiam. Bunda Aminda menatapku. Menepuk pundakku.

"Bagus nak. Bunda sangat kagum dengan pahlawan versimu."

Riuh tepuk tangan mulai ku dengar.

Aku tersenyum. Aku bangga. Bukan karna pujian dan tepuk tangan yang ku terima. Tetapi karna aku telah mengenalkan Bu Cut pada mereka. Mengenalkan pahlawan yang merubah pola fikirku sekarang.

Penulis               : Fatimah Pandeputri
Redaktur             : Ivana