Home berita Ini Alasan Matauli Terpilih Ikuti MoU dengan Goethe Institut

Ini Alasan Matauli Terpilih Ikuti MoU dengan Goethe Institut

276
0
SHARE
Ini Alasan Matauli Terpilih Ikuti MoU dengan Goethe Institut

Keterangan Gambar : Penandatanganan MoU antara SMAN 1 Matauli Pandan dan Goethe Institut. Foto: Mataulinews.com/dok

Mataulinews.com, - SMA Negeri 1 Matauli Pandan, Tapanuli Tengah, menjadi satu-satunya sekolah dari Provinsi Sumatera Utara yang dipilih Goethe Institut, untuk mengikuti program yang disebut dengan sekolah mitra menuju masa depan atau PASCH (Partner Schulen).

Dari seluruh dunia, sebanyak 600 sekolah digandeng dalam program ini dan menandatangani MoU, Sabtu (1/12) akhir pekan lalu, termasuk 29 sekolah dari Indonesia.

Kepala SMA Negeri 1 Matauli, Murdianto menuturkan alasan mengapa sekolah yang ia gawangi dipilih Goethe. Menurut dia, prestasi yang diraih sekolah selama ini menjadi salah satu alasan tersebut.

"Dengan prestasi yang diraih sma matauli, dan SMA Matauli diprediksi dan memberikan imbas bagi sekolah lain di Sumatera Utara," kata Murdianto, Senin (3/12).

Alasan lain, SMA unggulan terkemuka ini, memiliki para guru bersertifikat b2 Bahasa Jerman yang dikeluarkan Goethe Institut, yang belum dimiliki sekolah lainnya.

"Bahkan satu orang guru sudah punya sertifikat c1," papar Murdianto.

Sementara itu Murdianto menjelaskan, MoU yang telah ditandatangi dengan Goethe Institut akan ditindaklanjuti dengan berbagai program, terutama di internal SMA Negeri 1 Matauli Pandan.

Di antaranya, menyiapkan siswa terpilih untuk mengikuti program sertifikasi bahasa jerman level a1 dan a2, melalui kelas intensif bahasa Jerman.

Kemudian, mengikutkan para pelajar dalam program sertifikasi bahasa Jerman yang akan dilaksanakan Maret 2019 mendatang. Peraih nilai tertinggi dalam sertifikasi ini, lanjut dia, akan diberangkatkan ke Jerman selama 2 minggu mengikuti sommer camp.

"Ini hanya salah satu program unggulan dari MoU," katanya.

Program lainnya, sambung Murdianto, yakni pelatihan guru Bahasa Jerman, Konferensi internasional Kepala sekolah wilayah SAN (South Asia, Australia dan New Zelland). 

Berlanjut program Science Film Festival (SFF) yang memberikan nuansa dan cakrawala berfikir kritis dari siswa. Murdianto menyebut, dalam program ini, pihaknya juga mengundang siswa SMP dan SD di sekitar Pandan.

"Masih banyak program lain dan tentunya sangat bermanfaat dan menguntungkan, terutama menyiapkan generasi menghadapi era revolusi industri 4.0 kemampuan yg sangat diperlukan adalah 4C critical thinking, creativity, communication dan collaboration," urai Murdianto.

Penulis      : Yohana

Redaktur   : Damai Mendrofa